on 28 Mei 2026, 18:33
  • #akreditasi #igunwinarno #larsdhp

AKREDITASI? TELUSUR PMKP

Oleh; Igun Winarno

Pagi itu Rumah Sakit Damar Husada tampak berbeda dari biasanya. Lorong-lorong rumah sakit terlihat lebih rapi, para staf berjalan lebih sigap, dan hampir semua SDM tampak mempersiapkan diri dengan serius. Suasananya seperti rumah sakit sedang memiliki hajatan besar. Setelah ditelusuri, ternyata hari itu adalah pelaksanaan bimbingan survei akreditasi rumah sakit.

Akreditasi menjadi sesuatu yang penting bagi rumah sakit, karena menjadi salah satu tolok ukur apakah pelayanan rumah sakit benar-benar berkualitas, mengutamakan mutu, dan mampu menjaga keselamatan pasien atau tidak. Semua unit tampak sibuk dengan tugas masing-masing, termasuk Pokja PMKP yang sejak pagi sudah terlihat mondar-mandir mempersiapkan berbagai dokumen dan data.

Di sudut ruang rapat, Uun tampak gelisah. Wajahnya terlihat tegang sambil membuka beberapa map dokumen di hadapannya.

“Kenapa, Mbak? Kok kelihatannya cemas sekali?” tanya Ndari, temannya, dengan nada santai.

“Gimana nggak cemas? Hari ini fokus telusurnya Pokja PMKP,” jawab Uun pelan sambil menarik napas panjang.

“Oh… ya sudah ya…” jawab Ndari ringan sambil berlalu begitu saja tanpa merasa bersalah, membuat Uun hanya bisa menggeleng kecil.

Tidak lama kemudian, Uun sudah duduk bersama tim Pokja PMKP di sebuah meja setengah lingkaran. Di depan mereka duduk seorang surveyor akreditasi dengan wajah tenang namun penuh wibawa.

“Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, saya Winarno, surveyor akreditasi hari ini,” ucapnya sambil memandang satu per satu anggota tim PMKP.

Suasana sempat hening beberapa detik sebelum akhirnya proses perkenalan dimulai.

“Kita santai saja ya. Ini bukan tempat mencari kesalahan, tetapi proses pembimbingan agar rumah sakit memahami mutu dan keselamatan pasien dengan lebih baik. Jadi jangan terlalu tegang,” lanjutnya sambil tersenyum.

Beberapa anggota tim mulai tampak sedikit rileks.

“Kalian tahu tidak apa sebenarnya yang dimaksud dengan program PMKP?”

Ruangan kembali hening. Semua menunggu beliau melanjutkan penjelasannya, karena pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan retoris.

“PMKP adalah Program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien. Artinya, mutu pelayanan rumah sakit harus terus meningkat dari waktu ke waktu, dan keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama,” jelasnya.

Beliau kemudian melanjutkan bahwa jika berbicara tentang peningkatan mutu dan keselamatan pasien, maka rumah sakit harus memiliki program yang jelas, sistem yang berjalan, dan tim yang mengelolanya.

“Yang pertama tentu harus ada Komite Mutu atau Tim PMKP yang ditetapkan langsung oleh Direktur rumah sakit,” ujarnya sambil membuka dokumen di hadapannya.

Beliau mulai menjelaskan satu per satu komponen penting dalam PMKP.

“Harus ada SK Tim Komite Mutu. Anggotanya harus sesuai kompetensi dan di dalam SK harus tercantum jelas tugas pokok serta fungsinya. Tidak boleh hanya nama tanpa pekerjaan yang jelas.”

Semua mulai mencatat.

“Kemudian harus ada Pedoman Komite Mutu. Di dalamnya dijelaskan struktur tim, tupoksi, program kerja, sistem laporan bulanan, triwulan, semester, sampai tahunan. Bagaimana data dikumpulkan, dianalisis, dievaluasi, hingga bagaimana publikasi mutu dilakukan.”

Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Program kerja juga harus jelas. Ada indikator mutu nasional, indikator mutu prioritas rumah sakit, dan indikator mutu unit. Semua unit harus punya indikator dan sesuai SK Direktur, unit apa saja di rumah sakit itu.”

“Kalau indikator sudah tercapai 100% berturut-turut bagaimana? Kalau tidak tercapai bagaimana? Itu harus ada analisis dan perlakuannya,” tambah beliau.

“Perlu diingat pula bahwa setiap proses analisis dan pertemuan, harus disertai dengan dokumen undangan, daftar hadir dan notulensi, kalau analisis uji perubahan tentaunya harus ada data sebelumnya, membaik tidak, bermakna tidak perubahan yang telah dilakukan”

Uun mulai terlihat sedikit tenang karena ternyata sebagian besar yang dijelaskan memang sudah mereka kerjakan.

Surveyor itu lalu masuk pada bagian keselamatan pasien.

“PMKP tidak bisa dipisahkan dari keselamatan pasien. Harus ada laporan insiden keselamatan pasien, analisisnya, tindak lanjutnya, apakah insiden menurun atau meningkat. Rumah sakit juga harus membangun budaya keselamatan pasien.”

Beliau menatap semua anggota tim dengan serius.

“Budaya keselamatan itu bukan sekadar slogan di dinding. Tetapi apakah staf berani melapor, apakah ada pembelajaran, apakah ada perbaikan.”

“Perlu diingat ya teman-teman,” ujar Dokter Winarno sambil tersenyum tenang, “budaya mutu dan keselamatan pasien itu sering kali terlihat dari banyak sedikitnya laporan insiden keselamatan pasien yang masuk.”

Ninuk yang sejak tadi memperhatikan langsung mengangkat tangan kecilnya. “Kalau laporannya banyak berarti rumah sakitnya jelek ya, Dok?” tanyanya polos.

Dokter Winarno tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu.

“Bisa iya, bisa juga tidak,” jawabnya santai. “Tetapi yang paling penting adalah SDM di rumah sakit itu punya kepedulian dan keberanian untuk melapor, ini budaya yang bagus. Rumah sakit yang tidak pernah ada laporan belum tentu aman. Bisa jadi stafnya takut melapor, budaya keselamatannya belum terbentuk, atau masalahnya justru disembunyikan.”

Semua mulai memperhatikan lebih serius.

“Surveyor biasanya tidak hanya melihat jumlah insiden,” lanjut beliau, “tetapi apakah laporan yang masuk dilakukan analisis atau tidak, ada tindak lanjut perbaikannya atau tidak, dan apakah setelah itu terjadi perubahan. Nah, itu yang paling penting.”

“Berarti analisis di PMKP itu penting sekali ya, Dok?” tanya Afni penasaran.

“Betul sekali,” jawab Dokter Winarno mantap. “Analisis itu induknya. Dari analisis kita bisa memahami akar masalah sebenarnya. Kalau tidak dianalisis, rumah sakit tidak akan tahu apa yang harus diperbaiki.”

Beliau lalu melanjutkan dengan nada lebih dalam.

“Karena itu dalam PMKP harus ada pelatihan analisis dan validasi data. Rumah sakit harus belajar membaca data, memahami pola masalah, melakukan RCA, melihat tren, dan menentukan langkah perbaikan yang tepat.”

Semua tersenyum kecil, seolah sedang menertawakan diri mereka sendiri yang selama ini sering sibuk mengumpulkan laporan tanpa benar-benar memahami maknanya. Namun kini suasana ruangan berubah menjadi semakin fokus. Mereka mulai memahami bahwa PMKP bukan sekadar dokumen dan angka-angka laporan, tetapi tentang bagaimana rumah sakit belajar dari setiap kesalahan demi keselamatan pasien.

 “Kemudian ada manajemen risiko. Rumah sakit harus punya risk register. Unit-unit juga harus punya risk register masing-masing. Harus ada FMEA, RCA, ICRA, laporan semester, laporan tahunan, analisis lengkap, dan rekomendasi, ini juga akan terkait dengan anggaran, surveyor biasanya akan mencocokkan dengan anggaran rumah sakit terkait resiko.”

Beberapa anggota tim mulai membuka kembali dokumen mereka, memastikan semuanya tersedia.

“Lalu jangan lupa proses edukasi dan pembelajaran. Semua kegiatan harus terdokumentasi. Ada koordinasi dengan diklat, ada KAK, absensi, pre-test, post-test, dan laporan kegiatan.”

Beliau tersenyum kecil sebelum melanjutkan.

“Yang paling penting sebenarnya bukan dokumennya. Tetapi apakah program mutu itu benar-benar dikerjakan.”

Ruangan kembali hening.

Jelas, yang pertama apa ada programnya?, Apakah ada hasilnya? Ada analisisnya? Ada uji perubahannya? Apakah ada bukti tindak lanjut? Ada evaluasinya? Apakah masyarakat tahu rumah sakit ini sedang berupaya meningkatkan mutu?”

Beliau menunjuk papan media informasi di sudut ruangan.

“Mutu itu harus hidup. Bisa melalui story board, website, media sosial, atau media edukasi lainnya. Tetapi sebelum dipublikasikan harus ada validasi data.”

Terakhir beliau menutup penjelasannya dengan satu kalimat yang membuat semua orang terdiam.

“Mutu pelayanan rumah sakit tidak pernah lebih baik dari sistem yang dimiliki rumah sakit itu sendiri. Kalau sistemnya kuat, terstandar, diawasi, dan berorientasi pada keselamatan pasien, maka pelayanan yang dihasilkan juga akan baik.”

Uun perlahan tersenyum. Ketegangannya mulai berkurang. Hari itu ia mulai memahami bahwa akreditasi bukan hanya tentang penilaian, melainkan tentang bagaimana rumah sakit terus belajar memperbaiki diri demi keselamatan setiap pasien yang datang.

Semua terdiam mendengarkan dan merenungkan dirinya masing-masing. Ruangan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan kini berubah menjadi lebih hening dan penuh perhatian.

“Kalian tahu tidak, mengapa PMKP itu harus ada di rumah sakit?” Dokter Winarno kembali melanjutkan penjelasannya.

Beliau kemudian menjabarkan bahwa rumah sakit merupakan tempat dengan risiko yang sangat tinggi terhadap berbagai kejadian yang dapat membahayakan pasien. Risiko itu bisa berupa salah identifikasi pasien, salah pemberian obat, pasien jatuh, infeksi nosokomial, Ventilator-Associated Pneumonia (VAP), medication error, keterlambatan operasi, keterlambatan dan atau salah transfusi darah, kegagalan komunikasi saat handover, near miss di ICU maupun kamar operasi, dan berbagai risiko lainnya yang setiap hari bisa terjadi di lingkungan pelayanan kesehatan.

“Tanpa sistem mutu yang baik,” lanjut beliau perlahan, “kesalahan akan terus berulang, tidak ada pembelajaran, tidak ada evaluasi, dan pada akhirnya pasien yang dirugikan.”

Karena itulah PMKP dibentuk. Tujuannya bukan sekadar memenuhi dokumen akreditasi, tetapi untuk menurunkan risiko cedera pasien, membuat pelayanan lebih aman, meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan, membangun budaya keselamatan pasien, membuat keputusan berbasis data, menstandarkan pelayanan, serta menjadi dasar perbaikan berkelanjutan atau continuous quality improvement.

Beliau menegaskan bahwa standar PMKP membantu seluruh Profesional Pemberi Asuhan memahami bagaimana melakukan perbaikan pelayanan yang aman sekaligus menurunkan risiko yang dapat terjadi pada pasien.

“Di dalam PMKP sebenarnya ada filosofi yang sangat dalam,” ujar beliau sambil menatap seluruh anggota tim.

“Every system is perfectly designed to get the results it gets.”

Beliau kemudian menjelaskan maknanya dengan sederhana.

“Kalau sebuah rumah sakit sering terjadi medication error, angka pasien jatuh tinggi, VAP meningkat, hand hygiene rendah, antrean IGD kacau, atau komplain pasien terus bertambah, maka itu bukan kebetulan. Artinya, sistem yang ada memang sedang menghasilkan kondisi seperti itu.”

Ruangan kembali sunyi.

“Jadi yang perlu dilihat bukan hanya manusianya, tetapi sistemnya.”

Beliau mulai menjelaskan satu per satu.

“Mungkin SOP-nya buruk, komunikasinya lemah, monitoring tidak berjalan, budaya keselamatan rendah, staf kurang dilatih, supervisi kurang, alur kerja salah, atau bahkan pimpinan belum memberikan dukungan yang cukup.”

Beliau tersenyum kecil sebelum melanjutkan.

“Karena itu dalam PMKP kita tidak hanya memperbaiki manusianya, tetapi juga memperbaiki sistemnya. Sebab manusia bisa lupa, lelah, salah komunikasi, bahkan bekerja dalam tekanan tinggi.”

“Sistem yang baik dibuat untuk mencegah kesalahan, mendeteksi kesalahan, dan meminimalkan dampak kesalahan.”

Semua mulai mengangguk perlahan.

Dalam dunia pelayanan rumah sakit, hasil buruk yang terus berulang sebenarnya jarang terjadi hanya karena nasib buruk semata. Ketika insiden keselamatan pasien, keterlambatan pelayanan, medication error, infeksi rumah sakit, atau komplain pasien terus muncul dari waktu ke waktu, maka yang harus dilihat bukan hanya siapa yang salah, tetapi bagaimana sistem kerja di rumah sakit tersebut berjalan.

Sebab pada hakikatnya, setiap sistem akan menghasilkan keluaran sesuai dengan cara sistem itu dirancang dan dijalankan. Jika budaya mutu dan keselamatan pasien belum terbentuk, sistem kerja longgar, tidak terstandar, minim pengawasan, dan lemah dalam budaya keselamatan, maka hasil yang muncul pun akan penuh risiko dan masalah yang berulang.

Karena itu, ketika rumah sakit ingin mendapatkan hasil pelayanan yang berbeda dan lebih baik, maka yang harus diperbaiki bukan hanya individunya, tetapi sistemnya. Perubahan tidak cukup dilakukan dengan menegur staf atau menyalahkan petugas di lapangan, melainkan dengan membangun proses kerja yang aman, jelas, konsisten, dan terukur. Inilah yang disebut budaya mutu dan keselamatan pasien.

Rumah sakit harus memastikan adanya standar prosedur operasional (SPO) yang dipahami dan dijalankan, memastikan staf mendapatkan pelatihan yang memadai, melakukan monitoring dan audit secara rutin, menjalankan Root Cause Analysis (RCA) terhadap setiap insiden, memberikan umpan balik perbaikan, serta membangun budaya pelaporan tanpa rasa takut untuk disalahkan. Semua itu menjadi fondasi penting dalam membangun budaya mutu dan keselamatan pasien.

“Inilah yang menjadi dasar mengapa akreditasi rumah sakit tidak hanya berfokus mencari siapa yang salah,” lanjut Dokter Winarno, “tetapi lebih jauh melihat apakah sistem rumah sakit telah dirancang dengan aman.”

Beliau menunjuk beberapa dokumen yang ada di meja.

“Bukti bukan hanya dokumen. Surveyor akan melihat apakah sistem benar-benar berjalan. Dokumen hanyalah gambaran bahwa proses itu sudah dilakukan atau belum.”

Akreditasi ingin memastikan bahwa pelayanan rumah sakit berjalan berdasarkan standar, data, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan. Sebab sesungguhnya hasil pelayanan rumah sakit merupakan cerminan langsung dari kualitas sistem yang dimilikinya. Rumah sakit dengan sistem yang kuat, terstandar, diawasi dengan baik, dan berorientasi pada keselamatan pasien akan lebih mampu menghasilkan pelayanan yang aman, efektif, efisien, dan bermutu tinggi.

“Karena itu,” ujar beliau sambil tersenyum, “kualitas pelayanan rumah sakit tidak pernah lebih baik dari kualitas sistem yang dibangun di dalamnya.”

Beliau kemudian menatap seluruh anggota tim PMKP.

“Inilah yang akan ditanyakan oleh surveyor dalam telusur PMKP nanti.”

Dokter Winarno tersenyum puas melihat wajah Uun dan teman-temannya yang kini tampak jauh lebih tenang dan antusias dibanding sebelumnya.

“Oke, sekarang kita bisa langsung masuk ke standar-standar dalam PMKP.”

“Siap, Dokter!” jawab mereka hampir bersamaan.

Kini mereka mulai memahami bahwa PMKP bukan sekadar tuntutan akreditasi, tetapi pilar utama rumah sakit dalam menjaga mutu pelayanan dan keselamatan setiap pasien yang datang.

 

By Igun Winarno

Lanjut bagian dua, Standar dalam PMKP ---->

 

Komentar(6)

Yuni on 2026-05-28 19:10:00

Teirmakasih insightnya

Yohan Wenas Gunawan on 2026-05-28 19:14:25

Mantap dr. Igun, membantu memahami alur berpikir tentang mutu dan keselamatan di RS

iRANDI on 2026-05-28 19:20:05

Konsep yang sangat unik. Cerpen yang dengan ide utama materi standar akreditasi. Bisa ini dok dikembangkan lebih lanjut untuk skenario latihan PMKP atau tema lain dgn narasi cerpen.

Penulis on 2026-05-28 19:28:47

@Yuni @Yohan @Irandi Terima kasih atas apresiasi nya, semoga ada manfaatnya dan kita bisa terus membangun SDM bermutu

Nau'ul Masdaryah, on 2026-05-28 19:31:38

Terimakasih Dok, jadi lebih mudah memahamkan PMKP yang memuat seluruh elemen dengan mudah

Penulis on 2026-05-28 19:36:44

@nau'ul.... Alhamdulillah nanti bisa diikuti pembahasan per STANDAR PMKP nya... insyaAllah

Tinggalkan komentar