on 04 Mei 2026, 19:17
  • #istighfar #memohon #igunwinarno


Manusia adalah tempat salah dan lupa. Dalam perjalanan hidup yang panjang, ada begitu banyak dosa yang sengaja maupun tidak sengaja kita lakukan—dari ucapan yang melukai, sikap yang menyakiti, niat yang tercampur riya, hingga lintasan hati yang kadang jauh dari mengingat Allah. Karena itulah, sungguh tidak pantas jika ada manusia yang merasa dirinya paling bersih dari kesalahan. Kita semua menyimpan kekurangan, hanya saja Allah dengan sifat-Nya sebagai Al-Qhaffar adalah Dzat Yang Maha Mengampuni dan Maha Menutupi aib hamba-Nya. Betapa banyak kesalahan kita yang seharusnya bisa Allah tampakkan di hadapan manusia, namun Dia memilih menutupinya. Jika Allah berkehendak membuka seluruh aib kita, mungkin rasa malu akan membuat kita sulit menatap dunia. Maka kesadaran bahwa Allah masih menutup keburukan kita seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan.

Kalimat “Astaghfirullah” berarti, “Aku memohon ampun kepada Allah.” Kalimat ini seharusnya tidak berhenti sebagai rutinitas lisan setelah shalat atau ucapan spontan ketika mendengar sesuatu yang buruk. Ia semestinya keluar dari hati yang sadar bahwa dirinya lemah. Bahwa kita adalah manusia yang sering khilaf dalam perkataan, tindakan, keputusan, bahkan dalam niat yang tersembunyi sekalipun. Istighfar adalah bentuk kejujuran seorang hamba di hadapan Rabb-nya—pengakuan tulus bahwa tanpa ampunan Allah, kita tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan.

Dalam Al-Qur'an, Allah menggambarkan bahwa istighfar bukan hanya menghadirkan ampunan, tetapi juga membuka pintu keberkahan hidup. Dengan istighfar, Allah dapat melapangkan rezeki, memudahkan urusan, menenangkan hati, dan menghadirkan jalan keluar dari kesulitan yang terasa gelap.

Bisa jadi tubuh kita lelah bekerja seharian, pikiran penat oleh masalah kehidupan, namun ketika hari dihiasi dengan istighfar, ada harapan saat pulang ke rumah jiwa tetap tenang. Kita berharap Allah menutup kesalahan-kesalahan kita, menghapus kegelisahan, dan memudahkan jalan menuju kebahagiaan.

Kita mandi setiap hari karena tubuh kotor oleh debu dan keringat. Namun hati juga memiliki debunya sendiri—debu dosa, kelalaian, kesombongan, iri hati, dan berbagai luka batin yang tak terlihat. Hati pun perlu dibersihkan setiap hari, dan salah satu sabun terbaik bagi hati adalah istighfar. Ia adalah cara manusia tetap pulang kepada Allah, meskipun berkali-kali tersesat dalam perjalanan hidupnya.

Sebagai seorang dokter anestesi, saya sering melihat bagaimana tubuh pasien harus dijaga sterilitasnya. Infeksi harus dicegah, alat operasi harus dibersihkan, prosedur harus dijalankan dengan kehati-hatian tinggi agar tubuh pasien tetap selamat. Namun di balik semua itu, saya belajar bahwa hati manusia pun membutuhkan sterilisasi. Jika di ruang operasi kami mensterilkan alat untuk menyelamatkan tubuh, maka dalam kehidupan sehari-hari kita mensterilkan hati dengan istighfar agar jiwa tetap hidup dan bersih di hadapan Allah.

Ada pelajaran lain yang sangat dalam dari istighfar. Jika Allah begitu sering menutup aib kita, maka semestinya kita juga belajar menutup aib diri sendiri dan aib orang lain. Jangan mudah membuka kekurangan orang, jangan ringan mengumbar keburukan sesama, karena kita pun hidup dalam penjagaan Allah yang setiap saat menutupi kekurangan kita. Sungguh, orang yang sering beristighfar seharusnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih lembut lisannya, lebih rendah hatinya, dan lebih mampu menjaga kehormatan orang lain.

Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang menjadi manusia tanpa dosa, karena itu mustahil. Hidup adalah tentang menjadi hamba yang selalu sadar untuk kembali. Selama lisan masih mampu berucap “Astaghfirullah”, selama hati masih menyesal atas kesalahan, maka pintu rahmat Allah masih terbuka. Dan betapa indah jika suatu hari kita kembali kepada-Nya dengan lisan yang terbiasa memohon ampun dan hati yang selalu rindu untuk pulang.

By goens’GN

 

Komentar(2)

Wiji Astuti on 2026-05-04 20:02:18

Waaauw......kereeen om Igun Istighfar juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, melapangkan rezeki, dan memberikan ketenangan jiwa. Istighfar bukan sekadar ucapan lisan, melainkan sebuah "pembersih jiwa" , yang memiliki efek luar biasa dalam kehidupan. Beristighfarlah 100x setiap hari inyaallah jiwa ini akan lebih tenang.

Penulis on 2026-05-04 20:11:19

Untuk ... sahabat Wiji.... yess... betul sekali.... astagfirullah

Tinggalkan komentar