on 15 Oktober 2026, 11:57
  • #SMA #cerpen #bumiayu

Cerpen Nostalgia, Humor, dan Persahabatan

EXACT ONE

Seribu Kenangan, dan Waktu yang Tak Bisa Pulang

Oleh Igun Winarno

 

Kelas Kecil yang Terlalu Ramai untuk Dilupakan

Kalau ada yang bertanya di mana sebagian masa mudaku tertinggal, aku akan menjawab tanpa berpikir panjang. Di sebuah ruang kelas SMA Islam Ta’allumul Huda Bumiayu.

Ada masa dalam hidup yang tidak pernah benar-benar berlalu. Ia hanya berpindah tempat, dari bangku sekolah ke sudut ingatan, dari riuh tawa menjadi senyum kecil ketika kita sedang sendirian. Bagiku, masa itu bernama Exact One.

Kelas dua A1, jurusan Fisika. Hanya dua puluh empat anak manusia dengan isi kepala, perangai, dan mimpi yang berbeda. Ada Ardan, Susilo, Kholis, Edi, Tobiin, Nadirin, Kholik, Helmi, Safrudin, Hadi, Tasminah, Yantie, Irni, Ida, Evi, dan sahabat lainnya yang namanya tetap tersimpan dalam lemari ingatanku.

Dan tentu saja, ada aku. Igun. Seorang anak SMA yang saat itu belum tahu bahwa hidup kelak jauh lebih rumit daripada soal-soal Fisika.

“Gun, menurutmu kita ini kelas unggulan apa kelas buangan?” tanya Ardan suatu hari. “Unggulan, Dan! Jelas unggulan!” jawabku mantap. “Kok bisa?” Aku tersenyum. “Lha, muridnya cuma dua puluh empat. Berarti kita anak pilihan. A1, lho! Kelas anak pinter!”

Helmi langsung menyahut, “Pilihan apanya? Mungkin yang lain sudah diselamatkan masuk kelas sebelah!” Kami tertawa terbahak-bahak. Begitulah Exact One. Kelas kecil yang selalu punya alasan untuk ribut, berdebat, dan tertawa.

Di sana kami belajar rumus, teori, dan berbagai pelajaran sekolah. Namun, ada satu pelajaran yang tidak pernah tercantum dalam kurikulum, tetapi justru paling lama melekat dalam kehidupan kami: bagaimana menjadi sahabat.

Ekspedisi Kaligua: Petualang yang Tersesat

Suatu hari, entah siapa pencetusnya, muncul gagasan pergi ke Kaligua. “Ke Kaligua, yuk!” seseorang mengusulkan. “Biayanya?” tanya yang lain. Kholik langsung menyahut, “Sing penting mangkat disit rah. Duit urusan mengko!”

Itulah prinsip ekonomi anak SMA zaman kami. Perencanaan sederhana, keberanian luar biasa, dan uang saku yang kadang lebih tipis daripada buku catatan menjelang akhir semester.

Maka berangkatlah kami. Ardan, Susilo, Kholis, Edi, Hadi, Tobiin, Nadirin, Kholik, Helmi, Safrudin, aku, dan beberapa teman lainnya. Pagi itu dunia terasa begitu luas dan bersahabat. Jalanan menanjak, udara pegunungan semakin dingin, dan pepohonan seakan menyambut rombongan anak-anak yang merasa sedang melakukan ekspedisi besar.

Sampai akhirnya jalan yang kami lalui mulai terasa asing. “Gun, iki dalane bener apa ora?” tanya Susilo. “Bener, kayane.” Susilo mengerutkan dahi. “Kok kayane?” Aku menjawab santai, “Ya nek ngerti tenan, jenenge dudu petualangan!”

Ardan tertawa. Kholis yang suka romantis tiba-tiba memberi semangat, “Pokoke maju terus. Wong gunung ora bakal pindah!” Kami melanjutkan perjalanan, sampai tiba di sebuah persimpangan yang membuat semua orang berhenti.

“Menurutku kanan,” kata Ardan. “Alasane?” “Perasaanku.” Helmi, anak paling pintar di kelas, langsung protes. “Kita ini anak Fisika! Masa menentukan arah pakai perasaan? Harus pakai logika!”

“Lha terus logikamu ke mana?” Helmi berpikir sebentar, memandang jalan kanan dan kiri, lalu menjawab, “Kayaknya kiri.” “Alasane?” “Perasaanku juga.”

Tawa kami meledak di tengah pegunungan. Ternyata menjadi anak jurusan Fisika tidak otomatis membuat kami pandai menentukan arah. Rumus-rumus yang selama ini dipelajari rupanya belum menyediakan jawaban untuk persoalan sederhana: bagaimana menemukan jalan yang benar.

Sore mulai turun. Kabut menyelimuti pepohonan. Kaki pegal, perut lapar, dan semangat petualangan perlahan berubah menjadi keluhan. “Gun, nek ora tekan-tekan, awake dhewek turu nang endi?” Kholik mulai khawatir. “Tenang, ana musala.” “Lha musalane nang endi?” “Ya digoleki!” Kholik menggeleng. “Walah, Gun! Kowe ki nek ngomong gampang temen!”

Malam akhirnya datang. Beruntung kami menemukan sebuah musala untuk beristirahat. Tidak ada kasur empuk, kamar hotel, atau makanan istimewa. Lantai menjadi kasur, tas menjadi bantal, sementara sarung dan jaket menjadi selimut. Tetapi justru di sanalah salah satu kenangan terindah kami lahir.

Ketika membuka rangsel, ternyata masih ada beberapa bungkus Sarimi. Mendadak mata yang mulai sayu kembali berbinar. “Masak mi, yuk!” usulku. Usulan itu langsung disetujui secara aklamasi. Tidak perlu rapat, voting, apalagi persetujuan wali kelas. Kalau urusan makan, demokrasi Exact One selalu berjalan sempurna.

Air dipanaskan, mi disiapkan, dan semua mulai memberikan instruksi. “Sing penting banyune akeh, ben kabeh keduman!” celetuk seseorang. Yang lain menyahut, “Lha nek banyune kakehan, kuwe jenenge sop mi, dudu Sarimi!” Tawa kembali pecah.

Malam itu, beberapa bungkus Sarimi terasa lebih nikmat daripada hidangan mahal yang kami jumpai bertahun-tahun kemudian. Mungkin karena lapar. Mungkin karena dingin. Atau mungkin karena dimakan bersama orang-orang yang saat itu belum memahami bahwa kebersamaan seperti itu kelak menjadi sesuatu yang sangat mahal.

Keesokan harinya, keindahan curug Kaligua membayar seluruh kelelahan. Air jatuh dari ketinggian, udara segar memenuhi paru-paru, dan wajah-wajah muda kami tampak begitu bahagia. Tidak seorang pun berpikir bahwa perjalanan sederhana itu akan menjadi kenangan seumur hidup.

Sebab ketika masih muda, kita sering menganggap kebersamaan sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia. Padahal, kelak kita akan merindukan bahkan perjalanan yang pernah membuat kita tersesat.

Dan sampai sekarang, kalau mengingat Kaligua, aku masih ingin bertanya, “Nadirin... nang endi kowe saiki?”

The People Is... Kesalahan yang Menjadi Kenangan

Sebagai kelas yang merasa mempunyai identitas istimewa, kami pernah membuat kaus dengan nama-nama anggota Exact One. Tentu harus ada tulisan bahasa Inggris. Sebab menurut logika remaja saat itu, sesuatu akan terlihat lebih keren kalau ditulis dalam bahasa Inggris.

Maka terciptalah kalimat bersejarah: THE PEOPLE IS...

Kami bangga sekali sampai suatu hari guru bahasa Inggris melihatnya. “Who made this?” tanyanya. Kami saling pandang. Barangkali semua sedang sibuk menerjemahkan pertanyaan tersebut.

“People itu jamak! Seharusnya ARE, bukan IS!” Kholik mencoba membela, “Tapi, Pak, kan orangnya satu kelas!” Sang guru menggeleng. “Justru karena banyak orang, harus pakai ARE!”

Ardan berbisik kepadaku, “Gun, berarti kaose salah kabeh?” Aku mengangguk. “Secara grammar, iya.” “Terus piye?” “Ya dipakai bae. Wis telanjur dicetak!” Kami menahan tawa.

Bertahun-tahun kemudian, aku justru tidak ingin memperbaiki tulisan itu. Biarkan saja. Salah secara tata bahasa, tetapi benar secara kenangan. Karena kami memang sekumpulan orang dengan karakter berbeda, tetapi selalu merasa menjadi satu.

Terkadang sesuatu yang tidak sempurna justru menjadi bagian paling sempurna dari sebuah kenangan.

Nilai Seratus yang Tidak Boleh Sempurna

Aku pernah mendapatkan nilai seratus dalam pelajaran Sejarah. Tentu saja senang. Tetapi kegembiraan itu berubah menjadi tanda tanya ketika dalam laporan nilai tertulis sembilan puluh.

“Pak, nilai saya kan seratus. Kok jadi sembilan puluh?” tanyaku. Jawaban yang kudapat sungguh menarik. “Tidak patut seorang murid mendapat nilai seratus.”

Aku terdiam, mencoba mencerna filsafat pendidikan yang baru saja kudengar. “Lho, Pak, kalau jawaban saya benar semua, salahnya di mana?” “Pokoknya tidak pantas seratus!” Aku semakin penasaran. “Berarti nilai seratus sebenarnya untuk siapa, Pak?”

Suasana mulai tegang. Ardan berbisik, “Gun, wis Gun. Mengko malah dadi wolung puluh!” Aku menoleh. “Lha nek dibiarkan, besok jadi tujuh puluh!” Helmi menimpali, “Berarti makin diprotes, makin murah nilainya.”

Kami hampir tertawa. Kini, setelah dewasa, aku memahami bahwa nilai seratus bukanlah segalanya. Tetapi keberanian mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak adil barangkali ikut membentuk watak kami.

Seandainya bisa kembali ke masa itu, mungkin aku akan menyampaikan protes dengan sedikit lebih tenang. Sedikit saja. Sebab kalau terlalu tenang, barangkali aku bukan Igun yang dahulu.

Pak Royani, Pak Chudri, dan Demokrasi Exact One

Menjelang kelas tiga, kami menghadapi persoalan lain yang menurut kami sangat serius: siapa wali kelas berikutnya?

Kami ingin Pak Royani, yang mendampingi kami di kelas dua, tetap menjadi wali kelas. Namun, ada rencana Pak Chudri menggantikannya. Bagi sekolah, mungkin ini hanya urusan penugasan guru. Bagi kami, ini persoalan prinsip.

“Pokoke Pak Royani!” kata seorang teman. “Kenapa?” “Karena sudah kenal kita!” “Lha Pak Chudri juga bisa kenal.” “Bisa. Tapi perlu waktu.” “Berapa lama?” “Minimal sampai lulus!”

Kami tertawa, tetapi persoalan itu benar-benar berkembang menjadi perdebatan dengan pihak sekolah. Dua puluh empat murid ternyata bisa menimbulkan keributan seperti dua ratus orang.

Kini aku membayangkan betapa merepotkannya kami dahulu. Pak Royani dan Pak Chudri, di mana pun berada, semoga berkenan menerima kenangan ini sebagai bagian dari perjalanan kami. Kalau dahulu kami keras kepala, mungkin karena belum memahami bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang mempertahankan pendapat, tetapi juga menghargai orang yang berbeda pandangan.

Kalierang, Piala Besar, dan Konferensi Pers Bu Sri

Di balik berbagai kenakalan itu, Exact One juga punya kebanggaan. Cerdas cermat P4.

Aku, Ardan, dan Helmi menjadi tim lomba. Kholis sering ikut belajar bersama kami. Tempat favorit kami bukan perpustakaan megah, melainkan pinggir Kalierang. Di sanalah kami duduk, membuka buku, menghafal materi, dan saling menguji pengetahuan.

“Dan, coba pertanyaan!” kataku. Ardan membuka catatan. “Siap. Sebutkan...” Belum selesai pertanyaan dibacakan, Helmi menyela, “Jangan yang gampang!” Ardan protes, “Lha, belum selesai kok sudah tahu gampang?” Helmi menjawab santai, “Dari mukamu kelihatan!”

Kami tertawa, lalu kembali belajar. Kadang begitu serius sampai lupa waktu, kadang justru lebih banyak bercanda daripada membaca. Namun, usaha itu membuahkan hasil. Kami menjadi juara cerdas cermat tingkat kabupaten dua tahun berturut-turut dan melaju ke tingkat karesidenan. Piala besar akhirnya berdiri di lemari sekolah.

Namun, ada satu persoalan yang belum selesai. Kami merasa kurang mendapatkan bimbingan dari Bu Sri, guru PMP. Sebagai remaja yang belum bijaksana, kami menyusun strategi protes yang cukup kreatif: menghujani beliau dengan pertanyaan sepanjang pelajaran.

Hari yang ditentukan tiba. Bu Sri masuk kelas. Belum lama beliau menjelaskan, aku mengangkat tangan. “Bu, saya mau bertanya.” Pertanyaan dijawab. Tangan lain terangkat. “Bu, saya juga!” Dijawab lagi. Pertanyaan berikutnya menyusul tanpa henti.

Aku melirik Ardan. Ardan melirik Helmi. Kholis pura-pura serius membaca buku. Pertanyaan datang dari segala penjuru kelas. Kalau dilihat sepintas, mungkin kami tampak seperti murid paling antusias terhadap Pendidikan Moral Pancasila. Padahal, di balik antusiasme itu ada skenario kecil yang telah kami susun.

Sampai akhirnya bel berbunyi. Pelajaran selesai. Kami keluar kelas seperti baru memenangkan pertandingan. “Dan, sukses!” Helmi tertawa, “Ini bukan pelajaran PMP. Ini konferensi pers!”

Kini, mengenangnya membuatku geli sekaligus sedikit bersalah. Bu Sri, maafkan kami. Dulu kami terlalu banyak bertanya bukan karena tidak menghormati Ibu, melainkan karena belum pandai menyampaikan kekecewaan.

Kalau suatu hari beliau bertanya, “Sekarang sudah tobat?” Aku mungkin menjawab, “Sudah, Bu!” Dan Ardan barangkali berbisik dari belakang, “Tobat sementara, Gun?”

Mutiah, Hadi, Tasminah, dan Tawa yang Menjadi Doa

Ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh guru mana pun kepada kami. Bahwa waktu akan terus berjalan dan suatu hari tidak semua anggota kelas bisa hadir kembali.

Dahulu kami mengira waktu akan selalu panjang. Kami menganggap setiap perpisahan hanyalah jeda menuju pertemuan berikutnya. Tetapi kehidupan ternyata mempunyai cara sendiri untuk mengajari manusia tentang kehilangan.

Mutiah, sahabat kami yang lembut dan kalem, telah lebih dahulu berpulang. Kemudian Hadi, yang dahulu sering menghidupkan suasana dengan celotehannya. Dan Tasminah, sahabat perempuan yang energik, yang kehadirannya selalu memberi warna tersendiri dalam kehidupan Exact One.

Kini nama mereka tidak lagi kami panggil untuk berkumpul, melainkan kami sebut dalam doa. Al-Fatihah.

Ya Allah, ampunilah dosa mereka, lapangkan dan terangilah alam kuburnya, terimalah amal kebaikannya, dan tempatkanlah mereka dalam surga-Mu. Sahabat, mungkin langkah kita tidak lagi seiring, tetapi kenangan kita tidak akan pernah berakhir. Semoga kelak Allah mempertemukan kita kembali, bukan lagi di ruang kelas Exact One, melainkan di taman-taman surga-Nya.

Kadang aku membayangkan sebuah reuni. Kami datang satu per satu, berjabat tangan, lalu saling memandang wajah yang telah berubah. “Wah, rambutmu wis akeh sing putih!” “Lha kowe malah wis ora nduwe rambut!” “Sing penting isih ganteng!” “Ganteng saka endi? Awak be bunder!”

Semua tertawa. Tetapi mungkin tiba-tiba seseorang bertanya, “Mutiah, Hadi, Tasminah... ora teka, ya?”

Ruangan mendadak hening. Ada kursi-kursi yang tidak lagi dapat diisi pemiliknya. Bukan karena mereka lupa datang, melainkan karena Allah telah lebih dahulu memanggil mereka pulang.

Kami mungkin akan saling menunduk, mendoakan mereka. Lalu setelah doa selesai, seseorang kembali bercerita tentang kelucuan Hadi. Kami tertawa lagi, mungkin dengan mata yang sedikit basah.

Sebab kehilangan seorang sahabat tidak selalu dikenang dengan tangisan. Kadang justru melalui tawa yang tiba-tiba terhenti ketika menyadari bahwa orang yang sedang kita ceritakan tidak mungkin lagi tertawa bersama.

Kalau Waktu Bisa Dipinjam Sehari Saja

Kini, puluhan tahun telah berlalu. Aku sering bertanya kepada diri sendiri, apa sebenarnya yang paling kurindukan dari masa SMA? Apakah bangunan sekolah, bangku kelas, buku-buku pelajaran, atau seragam putih abu-abu?

Rasanya bukan. Yang kurindukan adalah suasananya. Saat kami bisa tertawa karena satu kalimat konyol, berjalan jauh tanpa khawatir kehilangan waktu, dan merasa bahwa nilai ulangan adalah persoalan terbesar dalam hidup. Saat sebungkus Sarimi di musala terasa lebih istimewa daripada makan malam di restoran mahal. Dan saat semua sahabat masih ada.

Seandainya Tuhan mengizinkan waktu dipinjam sehari saja, aku ingin kembali ke kelas A1. Datang pagi-pagi, duduk di bangku lamaku, mendengar Hadi berceloteh, melihat Tasminah dan Mutiah tersenyum, serta mendengar suara guru memanggil nama kami.

Aku bahkan ingin sekali lagi dimarahi guru bahasa Inggris karena tulisan The People Is... Aku ingin kembali belajar di pinggir Kalierang, membuka buku cerdas cermat, dan berpura-pura belajar serius, padahal diam-diam menikmati persahabatan yang begitu tulus.

Dan kalau masih ada waktu, aku ingin mengajak mereka kembali ke Kaligua. Tetapi kali ini aku akan membawa peta. Ardan mungkin protes, “Gun, nggo apa nggawa peta?” “Biar tidak tersesat lagi.” “Lha nek ora kesasar, ora ana ceritane!” Aku akan tertawa. “Ya wis. Peta disimpen bae.”

Lalu Nadirin mungkin menyahut dari belakang, “Sing penting aja nggawa minyak tanah!” Dan kami semua kembali tertawa seperti anak-anak SMA yang tidak pernah berpikir tentang usia tua, kehilangan, atau perpisahan.

Sayangnya, waktu tidak bisa dipinjam. Ia hanya meninggalkan sebuah pintu kecil bernama kenangan. Dan sesekali, ketika hati sedang rindu, kita membukanya perlahan.

Exact One, Tetaplah Dua Puluh Empat

Sahabat-sahabatku, kita mungkin tidak lagi muda. Wajah telah berubah, rambut mulai memutih, dan langkah tidak lagi seringan ketika mendaki Kaligua. Sebagian telah menjadi orang tua, bahkan kakek dan nenek. Dunia membawa kita ke jalan kehidupan masing-masing.

Tetapi satu hal tidak pernah berubah. Kita pernah menjadi bagian dari Exact One. Sebuah kelas kecil yang terlalu ramai untuk dilupakan.

Untuk sahabat yang masih diberi kesempatan menjalani kehidupan, mari menjaga silaturahmi. Tidak perlu menunggu reuni mewah. Secangkir kopi, beberapa kursi, dan cerita masa SMA sudah cukup membuat kita merasa muda kembali. Sebab yang paling mahal dari sebuah pertemuan bukanlah tempatnya, melainkan kenyataan bahwa kita masih diberi kesempatan untuk bertemu.

Untuk Mutiah, Hadi, dan Tasminah, kalian tetap bagian dari kami. Tidak ada yang boleh menghapus nama kalian dari daftar kelas kehidupan ini. Exact One tetap dua puluh empat. Dahulu, sekarang, dan selamanya dalam kenangan.

Masih banyak kisah yang belum sempat kutulis, kelucuan yang mungkin hanya diingat satu atau dua orang, serta rahasia kecil masa remaja yang barangkali membuat kita tertawa terbahak-bahak kalau dibuka sekarang. Biarlah sebagian tetap tersimpan di hati, sebab tidak semua kenangan harus dituliskan untuk tetap hidup.

Suatu hari nanti, mungkin kami berkumpul lagi. Seseorang membuka cerita, “Eh, kelingan ora, pas nang Kaligua?” Yang lain langsung tertawa. “Nadirin! Minyak tanah!” Lalu seseorang menyahut, “Wis, aja kuwi maning. Kasihan Nadirin!”

Dan di antara suara-suara itu, aku mungkin hanya duduk sambil tersenyum, memandangi wajah-wajah yang dahulu begitu muda. Mensyukuri bahwa Tuhan pernah mempertemukan kami dalam satu kelas kecil di sebuah sekolah di Bumiayu.

Sebab akhirnya aku mengerti: kita tidak benar-benar merindukan masa lalu. Kita merindukan orang-orang yang membuat masa lalu begitu indah.

Ah, Exact One... Betapa indahnya masa ketika kita belum tahu bahwa suatu hari kita akan begitu merindukannya.

Kalau kelak kita bertemu lagi, jangan bertanya tentang jabatan, harta, atau seberapa hebat kehidupan kita. Tanyakan saja, “Gun, kowe isih kelingan ora, jaman awake dhewek SMA?”

Dan aku akan menjawab, “Kelingan, lah... Wong sebagian atiku isih manggon nang kana.”

Aku masih ingat. Sebab sebagian hatiku masih tinggal di sana.

Bumiayu, dalam kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.


Seorang siswa Exact One
SMA Islam Ta’allumul Huda Bumiayu
by goens’GN

Untuk seluruh sahabat Exact One, termasuk Mutiah, Hadi, dan Tasminah yang telah lebih dahulu berpulang. . (Igun, Kholik, Ardan, Susilo, Helmi, Edi S, Budiarti, Winarti, Helmi N, Irni, Mutiah (alm), Tobiin, Hadi (alm), Nadirin, Ika, Evi, Tasminah (alm), Nurkholis, Saprudin, Erni, Ida, Yantie, Usmiatul, Umi,)

 

 

 

Komentar(0)

Tinggalkan komentar