Sebuah Cerpen
KALAU BUKAN PARIPURNA, LALU UNTUK
APA?
Sebuah Kegelisahan
tentang Akreditasi, Mutu, dan Pasien
by Igun Winarno
Ini adalah cerita tentang empat
orang kawan dalam sebuah perdebatan mengenai makna status akreditasi rumah
sakit—tentang proses berbenah yang memakan waktu, tenaga, dan pikiran,
sekaligus mempertanyakan kembali landasan mengapa mereka harus berbenah. Di
tengah lelahnya mengejar dokumen, laporan, bukti implementasi, dan status
Paripurna, muncul sebuah pertanyaan: “Untuk apa kita bekerja sekeras ini
jika akhirnya tidak Paripurna?” Perdebatan itu perlahan membawa mereka
kembali pada makna yang sesungguhnya: akreditasi bukanlah sebuah momen untuk
menghadapi surveior, melainkan proses membangun sistem yang berkualitas—sistem
yang tetap menjaga mutu dan keselamatan pasien, bahkan ketika tidak ada survei
dan tidak seorang pun sedang menilai.
Pukul 12.47.
Ruang Komite Mutu siang itu
terasa lebih pengap dari biasanya. Empat orang berkumpul membahas program PMKP
dan SKP. Empat gelas kopi berada di atas meja. Dua sudah kosong, satu masih
mengepulkan asap tipis, sementara satu lagi bahkan belum tersentuh. Di layar
laptop terpampang sebuah laporan.
Tidak ada seorang pun yang
berbicara.
Sampai akhirnya Gunawan memecah
keheningan.
“Jadi... selesai?”
Tidak ada jawaban.
Ia menggeser laptop ke tengah
meja.
“Enam bulan kita kerja. Tiga
bulan terakhir hampir setiap hari pulang lewat jam empat sore. SPO diperbaiki.
SK Direktur dilengkapi. Form dibuat. Sosialisasi. Simulasi. Telusur. Rapat
entah sudah berapa kali.”
Tangannya menunjuk ke layar.
“Dan akhirnya tidak Paripurna
hanya karena laporan, bukti implementasi, dan beberapa dokumen belum lengkap?”
Ninuk yang duduk di depannya
langsung menyahut.
“Jangan bilang hanya karena
laporan, Mas Gun. Bukti itu bagian dari akreditasi.”
“Nah! Itu dia masalahnya!” Suara
Gunawan mulai meninggi.
“Kita ini rumah sakit atau
percetakan dokumen?”
Ninuk menatapnya tajam.
“Kalau dokumennya tidak ada,
bagaimana kita membuktikan bahwa sistem itu benar-benar berjalan?”
“Terus kalau dokumennya lengkap,
apakah otomatis sistemnya juga berjalan?”
Ruangan kembali senyap.
Kali ini Uun ikut bicara.
“Saya malah mau bertanya yang
lebih mendasar.”
Ia menyandarkan tubuhnya di
kursi.
“Kalau hampir semua dokumen dan
bukti sudah lengkap, semua orang sudah bekerja, banyak hal sudah kita perbaiki,
tetapi hanya karena satu laporan ke Kementerian Kesehatan kurang satu bulan
kemudian hasilnya tidak Paripurna... lalu untuk apa semua yang sudah kita
kerjakan?”
Tak seorang pun segera menjawab.
Uun menatap satu per satu wajah
di hadapannya.
“Rasanya satu kekurangan itu
seperti membuang begitu saja begitu banyak tenaga, waktu, pikiran, dan
perubahan yang sudah kita lakukan.”
Untuk beberapa saat, hanya suara
pendingin ruangan yang terdengar.
Dan dari situlah perdebatan
tentang apa sebenarnya makna akreditasi dimulai.
Haris yang sejak tadi lebih
banyak terdiam akhirnya berbicara. Ia memang dikenal sebagai pribadi yang
kalem. Kali ini pun suaranya tetap tenang, tetapi kalimatnya terasa dalam.
“Kalau akhirnya tidak Paripurna,
memang kenapa?”
Gunawan, Uun, dan Ninuk serentak
menoleh. Haris sendiri masih menunduk menatap layar laptop, seolah tidak
terlalu memedulikan tatapan ketiganya.
“BPJS tetap bayar klaim, kan?”
“Mas Haris...” Ninuk mulai
terlihat tidak nyaman. Uun tersenyum kecut, sementara Gunawan memilih diam,
menunggu ke mana arah pembicaraan Haris.
“Serius,” lanjut Haris. “Pasien
tetap datang. Operasi tetap jalan. Poli tetap buka. Klaim BPJS juga tetap
berjalan. Jadi, buat apa kita jungkir balik begini?”
Gunawan akhirnya tertawa pendek.
“Nah... akhirnya ada juga yang
ngomong.”
Haris melanjutkan.
“Coba lihat manajemen dan
teman-teman kita. Begitu dengar surveior mau datang, semuanya panik. Dokumen
dicari. Form yang tiga bulan tidak disentuh tiba-tiba diisi. Sosialisasi setiap
hari. Grup WhatsApp penuh instruksi.”
Ia berhenti sejenak, kemudian
mengangkat wajahnya.
“Begitu surveior pulang?”
Tangannya membuat gerakan
menurun.
“Perlahan semuanya kembali
seperti semula.”
“Makanya kita perlu disiplin!”
potong Ninuk.
Haris menoleh kepadanya.
“Disiplin... atau ketakutan?”
“Beda tipis kalau orangnya memang
susah diajak berubah,” jawab Ninuk.
“Jangan salahkan pelaksana
terus!” sahut Uun.
Percakapan yang semula tenang
mulai berubah. Suara mereka saling bersahutan.
“Unit sudah dikasih tahu!”
“SDM-nya kurang!”
“Form sudah dibagikan!”
“SIMRS-nya saja belum sepenuhnya mendukung!”
“Apalagi kepatuhan mengisi E-RMnya”
“SPO sudah ada!”
“Ya, ada! Tapi orang di lapangan
bahkan tidak tahu isinya!”
“Sudah disosialisasikan!”
“Empat jam duduk di aula itu
namanya sosialisasi, bukan perubahan perilaku!”
Suasana semakin riuh.
Gunawan akhirnya mengetukkan
telapak tangannya ke meja.
“Sudah!”
Seketika ruangan terdiam.
Gunawan memandang ketiga kawannya
bergantian.
“Intinya, jangan-jangan selama
ini kita memang terlalu serius mengejar akreditasi, bukan serius membangun mutu.
Kalau akhirnya statusnya tidak sesuai harapan, lalu semua kerja keras ini
sebenarnya untuk apa?”
Tak ada yang segera menjawab.
Pertanyaan itu menggantung di
tengah ruangan.
Dan untuk pertama kalinya siang
itu, mereka mulai menyadari bahwa yang sedang mereka perdebatkan mungkin bukan
lagi soal Paripurna atau tidak Paripurna.
Ada pertanyaan yang jauh lebih
mendasar:
Sebenarnya, untuk apa rumah sakit
melakukan akreditasi?
Namanya Raka.
Ia yang paling senior di antara
mereka. Sejak awal perdebatan, Raka lebih banyak memilih diam dan mendengarkan.
Sesekali ia mencatat sesuatu di buku kecil di hadapannya. Ketika suara mulai
mereda, ia menutup bukunya perlahan.
“Boleh saya bertanya?”
Keempatnya terdiam.
“Enam bulan terakhir, apa
sebenarnya yang kita kejar?”
“Ya akreditasi,” jawab Gunawan
cepat.
“Bukan.”
“Paripurna,” sahut Ninuk.
Raka menggeleng pelan.
“Justru itu masalah kita.”
Ia berdiri, mengambil spidol,
lalu berjalan menuju papan tulis. Ditulisnya satu kata besar:
PARIPURNA
“Ini yang kita kejar?”
Tidak ada yang menjawab.
Di bawahnya, Raka menuliskan satu
kata lagi:
PASIEN
Ia berbalik menghadap mereka.
“Sekarang saya tanya, yang mana
sebenarnya tujuan kita?”
Uun tersenyum tipis.
“Jangan terlalu idealis, Dok.
Realitasnya rumah sakit memang dinilai melalui akreditasi.”
“Benar,” jawab Raka. “Saya tidak
pernah mengatakan akreditasi tidak penting.”
Ia kembali ke kursinya.
“Akreditasi itu penting. Sangat
penting. Tetapi kita keliru ketika menjadikan akreditasi sebagai tujuan akhir,
apalagi kalau seluruh energi kita hanya diarahkan untuk mendapatkan sebuah
status.”
“Bedanya apa?” tanya Haris.
“Besar sekali.”
Raka mengambil salah satu
formulir identifikasi pasien yang berserakan di atas meja.
“Misalnya ini. Kenapa pasien
harus diidentifikasi dengan benar?”
“Karena standar mengharuskan,”
jawab Haris.
“Nah.”
Raka tersenyum.
“Jawaban seperti itulah yang
membuat kita capek.”
Uun mengernyit.
“Seharusnya?”
“Karena kalau kita salah
mengidentifikasi pasien, obat bisa diberikan kepada orang yang salah. Darah
bisa ditransfusikan kepada pasien yang salah. Tindakan bisa dilakukan kepada
orang yang salah.”
Ia meletakkan formulir itu
kembali ke atas meja.
“Jadi kita melakukan identifikasi
pasien bukan karena besok surveior akan datang. Kita melakukannya karena pasien
harus selamat.”
Ruangan mendadak hening.
“Standar bukan dibuat untuk
menyenangkan surveior. Standar dibuat untuk membantu rumah sakit membangun
sistem yang melindungi pasien.”
Tidak ada yang menyela.
Apa yang dikatakan Raka
sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi mereka. Dalam berbagai materi yang
mereka pelajari, mereka berkali-kali diingatkan bahwa akreditasi tidak boleh
berhenti pada document-based. Sistem harus bergerak menuju process-based,
kemudian patient-based, dan pada akhirnya outcome-based.
“Tapi kenyataannya,” Gunawan
berkata lebih pelan, “yang ditanyakan tetap dokumen.”
Raka mengangguk.
“Betul. Karena dokumen adalah bukti.
Kita tetap membutuhkan regulasi, laporan, data, dan bukti implementasi untuk
menunjukkan bahwa sistem benar-benar berjalan.”
Ia berhenti sejenak.
“Tetapi bukti bukanlah tujuan.
Dokumen membuktikan sistem berjalan; bukan sistem berjalan demi menghasilkan
dokumen.”
Raka mengambil spidol lagi. Ia
menulis:
DOKUMEN ? PROSES ? PASIEN ? HASIL
“Kalau SPO ada tetapi tidak
dilaksanakan, gagal.”
“Kalau dilaksanakan?” tanya
Haris.
“Kita ukur.”
“Kalau hasilnya jelek?”
“Kita perbaiki.”
“Kalau sudah baik?”
“Kita jaga agar tetap baik.”
Raka menambahkan satu kata di
bawahnya:
BERKELANJUTAN
“Nah, itu akreditasi.”
Semua terdiam. Uun hanya
tersenyum-senyum, sementara Ninuk yang sejak tadi terlihat tegang mulai lebih
tenang.
“Jadi menurut Dokter, masalah
kita selama ini karena terlalu mengejar kelulusan?” tanya Ninuk.
“Sebagian.”
“Sebagian lagi?”
Raka meletakkan spidolnya.
“Kita terlalu sering membangun
sistem untuk sebuah moment, bukan membangun sistem menjadi sebuah culture.”
Raka menunjuk kalender yang
tergantung di dinding.
“Enam bulan sebelum survei, kita
mulai membentuk tim.”
Ia menunjuk tumpukan map di sudut
meja.
“Tiga bulan sebelum survei, kita
sibuk mengejar dokumen.”
Tangannya kemudian berpindah
menunjuk laptop.
“Satu bulan sebelum survei, kita
simulasi, sosialisasi, telusur, rapat hampir setiap hari.”
“Lalu survei datang,” sambung
Gunawan.
“Semua bergerak,” kata Raka.
“Lalu Paripurna,” tambah Haris.
Raka mengangguk.
“Setelah itu?”
Tidak ada yang menjawab.
Gunawan akhirnya tertawa kecil.
“Tidur.”
Mereka pun ikut tertawa.
“Dan menjelang reakreditasi?”
tanya Raka lagi.
“Panik lagi,” jawab Ninuk sambil
tersenyum.
“Nah, itulah salah satu jebakan
terbesar akreditasi.”
Raka kembali memandang keempat
kawannya.
“Dan sebenarnya, di sinilah tugas
kita di Komite Mutu. Bukan sekadar membuat rumah sakit lulus akreditasi, tetapi
membangun budaya mutu dan keselamatan pasien yang hidup setiap hari.”
Ia mengambil spidol dan
menuliskan dua istilah:
COMPLIANCE CULTURE vs QUALITY
& SAFETY CULTURE
“Kalau orang bekerja karena
surveior akan datang, itu compliance culture. Orang patuh karena sedang
dinilai.”
Raka memberi garis di bawah
tulisan kedua.
“Tetapi kalau orang tetap
melakukan identifikasi dengan benar, tetap menjaga kebersihan tangan, tetap
melaporkan insiden, tetap mengukur indikator, tetap melakukan perbaikan,
meskipun tidak ada surveior yang datang, itulah quality and safety culture.”
Uun yang sejak tadi hanya
tersenyum akhirnya mengangguk.
“Berarti ukuran keberhasilan kita
bukan ketika rumah sakit terlihat hebat saat survei?”
Raka tersenyum.
“Bukan hanya itu.”
Ia mengetuk pelan tulisan di
papan.
“Ukuran keberhasilan kita justru
ketika cara kerja yang benar tetap dilakukan saat tidak ada seorang pun yang
sedang menilai.”
Ruangan kembali hening.
Kali ini bukan karena mereka
kehabisan bahan untuk berdebat.
Mereka mulai memahami bahwa
selama ini siklusnya memang sering berulang: tim dibentuk, dokumen dikejar,
simulasi dilakukan, survei datang, status diperoleh, aktivitas menurun, lalu
menjelang reakreditasi semua kembali panik. Dan justru siklus itulah yang harus
mereka putus.
“Tapi teman-teman kita memang
sudah mulai pasrah,” kata Ninuk.
“Kenapa?”
“Ya... mungkin capai dan bosan.”
Raka menggeleng pelan.
“Jangan terlalu cepat
menyimpulkan demikian. Kadang orang terlihat pasrah bukan karena tidak peduli,
tetapi karena ada sesuatu dalam sistem yang membuat semangat mereka perlahan
hilang.”
Ia mulai menghitung dengan
jarinya.
“Mungkin mereka tidak memahami why-nya—mengapa
semua ini harus dilakukan.”
“Purpose gap,” gumam
Haris.
“Mungkin mereka merasa semua
usaha itu tidak memberikan manfaat atau penghargaan apa pun.”
“Reward gap.”
“Mungkin mereka menganggap
akreditasi hanyalah urusan Pokja atau Komite Mutu.”
“Ownership gap.”
“Mungkin memang belum cukup
memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.”
“Capability gap.”
“Mungkin pimpinan banyak
memberikan instruksi, tetapi belum cukup memberikan contoh.”
“Leadership gap.”
“Atau beban pekerjaan mereka
memang sudah terlalu berat.”
“Workload gap.”
“Atau mereka terus bekerja tanpa
pernah tahu apakah yang mereka lakukan sudah benar atau belum, karena hampir
tidak pernah mendapatkan umpan balik.”
“Feedback gap.”
Raka mengangguk.
“Nah. Jadi sebelum kita
menyalahkan manusianya, mari kita periksa dulu sistemnya. Bisa jadi yang
terlihat sebagai kepasrahan sebenarnya adalah akumulasi dari berbagai celah
yang tidak pernah kita selesaikan.”
Gunawan terdiam cukup lama.
“Kalau begitu, selama ini kita
salah?”
“Tidak,” jawab Raka cepat. “Kita
sedang belajar.”
“Tapi hasil kita tetap tidak
Paripurna hanya karena laporan.”
“Dan itu mengecewakan. Saya juga
kecewa.”
“Lalu?”
Raka menatap Gunawan.
“Besok pagi pasien tetap datang,
bukan?”
Gunawan mengangguk.
“Besok ada operasi?”
“Ada.”
“ICU tetap merawat pasien
kritis?”
“Iya.”
“IGD tetap menerima pasien?”
“Iya.”
Raka tersenyum. Ia berdiri, lalu
menghapus tulisan PARIPURNA yang sejak tadi memenuhi papan. Hanya satu kata
yang dibiarkannya tetap ada:
PASIEN
“Berarti pekerjaan kita belum
selesai.”
Ia menunjuk tulisan itu.
“Status akreditasi boleh berubah.
Sertifikat memiliki masa berlaku. Surveior datang, menilai, lalu pulang. Tetapi
pasien datang setiap hari. Jadi tanggung jawab kita terhadap mutu dan
keselamatan juga harus hidup setiap hari.”
Ninuk memandang tumpukan dokumen
di atas meja.
“Lalu mulai besok kita bagaimana?
Rapat lagi?”
“Tidak.”
“Sosialisasi besar?”
“Tidak.”
“Bikin tim baru?”
“Juga tidak.”
“Terus?”
Raka tersenyum.
“Besok kita mulai dari yang
kecil.”
Ia kembali mengambil spidol.
“Mulailah dari hal-hal kecil yang
dilakukan secara konsisten: lima menit briefing setiap hari, satu telusur
setiap hari, satu review rekam medis pasien, satu observasi keselamatan, setiap
satu masalah diikuti satu tindakan perbaikan, memberikan umpan balik setiap
minggu, dan menjalankan PDSA setiap bulan.”
“Tidak perlu menunggu survei.”
Haris memandangi papan.
“Jadi target kita bukan lagi survey-ready?”
Raka menggeleng.
“Target kita tetap siap survei.”
Ia berhenti sejenak, kemudian
menambahkan,
“Tetapi bukan siap survei hanya
tiga bulan menjelang penilaian atau sekali dalam empat tahun.”
Spidolnya kembali bergerak di
papan.
SURVEY-READY, EVERY DAY.
“Karena rumah sakit yang
benar-benar siap setiap hari tidak perlu panik ketika surveior datang.”
Waktu terus bergeser, pertanda
jam kerja hampir usai. Satu per satu mereka menutup laptop. Ketegangan yang
sejak tadi memenuhi ruangan perlahan mencair menjadi senyum. Tidak ada
keputusan besar yang dibuat siang itu, tetapi ada sebuah mimpi yang mulai tumbuh
bersama: bagaimana membangun budaya mutu dan keselamatan pasien yang tidak
bergantung pada datang dan perginya surveior; bagaimana menjadikan telusur,
evaluasi, dan perbaikan sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Mereka datang ke ruangan itu
dengan pikiran tertuju pada satu kata besar: PARIPURNA. Namun mereka pulang
membawa satu kata yang jauh lebih besar maknanya: PASIEN. Sebab pada akhirnya,
yang paling penting bukan sekadar status apa yang tertulis pada sertifikat
akreditasi, melainkan bagaimana setiap pasien yang datang dapat tetap terjaga
keselamatannya, memperoleh pelayanan yang bermutu, dan pulang dengan pengalaman
pelayanan yang semakin baik.
“Jangan hanya bersemangat ketika
akreditasi mendekat. Jagalah semangat itu tetap menyala setelah surveior
pulang—karena sertifikat memiliki masa berlaku, tetapi tanggung jawab kita
kepada pasien tidak pernah berlalu.”
— by goens’GN
Sendy on 2026-10-01 12:40:32
Sesuai sekali dengan realita lapangan dok, tujuan utama yang sering terlupakan terimakasihEKO VINALY on 2026-10-01 13:19:08
Super sekali,hal sering terjadi ,realita yang terjadi di lapangan dok,motivasi untuk berekelanjutan