on 01 Oktober 2026, 11:55
  • #akreditasi #paripurna #igun

Sebuah Cerpen

KALAU BUKAN PARIPURNA, LALU UNTUK APA?

Sebuah Kegelisahan tentang Akreditasi, Mutu, dan Pasien

by Igun Winarno

Ini adalah cerita tentang empat orang kawan dalam sebuah perdebatan mengenai makna status akreditasi rumah sakit—tentang proses berbenah yang memakan waktu, tenaga, dan pikiran, sekaligus mempertanyakan kembali landasan mengapa mereka harus berbenah. Di tengah lelahnya mengejar dokumen, laporan, bukti implementasi, dan status Paripurna, muncul sebuah pertanyaan: “Untuk apa kita bekerja sekeras ini jika akhirnya tidak Paripurna?” Perdebatan itu perlahan membawa mereka kembali pada makna yang sesungguhnya: akreditasi bukanlah sebuah momen untuk menghadapi surveior, melainkan proses membangun sistem yang berkualitas—sistem yang tetap menjaga mutu dan keselamatan pasien, bahkan ketika tidak ada survei dan tidak seorang pun sedang menilai.

Pukul 12.47.

Ruang Komite Mutu siang itu terasa lebih pengap dari biasanya. Empat orang berkumpul membahas program PMKP dan SKP. Empat gelas kopi berada di atas meja. Dua sudah kosong, satu masih mengepulkan asap tipis, sementara satu lagi bahkan belum tersentuh. Di layar laptop terpampang sebuah laporan.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Sampai akhirnya Gunawan memecah keheningan.

“Jadi... selesai?”

Tidak ada jawaban.

Ia menggeser laptop ke tengah meja.

“Enam bulan kita kerja. Tiga bulan terakhir hampir setiap hari pulang lewat jam empat sore. SPO diperbaiki. SK Direktur dilengkapi. Form dibuat. Sosialisasi. Simulasi. Telusur. Rapat entah sudah berapa kali.”

Tangannya menunjuk ke layar.

“Dan akhirnya tidak Paripurna hanya karena laporan, bukti implementasi, dan beberapa dokumen belum lengkap?”

Ninuk yang duduk di depannya langsung menyahut.

“Jangan bilang hanya karena laporan, Mas Gun. Bukti itu bagian dari akreditasi.”

“Nah! Itu dia masalahnya!” Suara Gunawan mulai meninggi.

“Kita ini rumah sakit atau percetakan dokumen?”

Ninuk menatapnya tajam.

“Kalau dokumennya tidak ada, bagaimana kita membuktikan bahwa sistem itu benar-benar berjalan?”

“Terus kalau dokumennya lengkap, apakah otomatis sistemnya juga berjalan?”

Ruangan kembali senyap.

Kali ini Uun ikut bicara.

“Saya malah mau bertanya yang lebih mendasar.”

Ia menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Kalau hampir semua dokumen dan bukti sudah lengkap, semua orang sudah bekerja, banyak hal sudah kita perbaiki, tetapi hanya karena satu laporan ke Kementerian Kesehatan kurang satu bulan kemudian hasilnya tidak Paripurna... lalu untuk apa semua yang sudah kita kerjakan?”

Tak seorang pun segera menjawab.

Uun menatap satu per satu wajah di hadapannya.

“Rasanya satu kekurangan itu seperti membuang begitu saja begitu banyak tenaga, waktu, pikiran, dan perubahan yang sudah kita lakukan.”

Untuk beberapa saat, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar.

Dan dari situlah perdebatan tentang apa sebenarnya makna akreditasi dimulai.

Haris yang sejak tadi lebih banyak terdiam akhirnya berbicara. Ia memang dikenal sebagai pribadi yang kalem. Kali ini pun suaranya tetap tenang, tetapi kalimatnya terasa dalam.

“Kalau akhirnya tidak Paripurna, memang kenapa?”

Gunawan, Uun, dan Ninuk serentak menoleh. Haris sendiri masih menunduk menatap layar laptop, seolah tidak terlalu memedulikan tatapan ketiganya.

“BPJS tetap bayar klaim, kan?”

“Mas Haris...” Ninuk mulai terlihat tidak nyaman. Uun tersenyum kecut, sementara Gunawan memilih diam, menunggu ke mana arah pembicaraan Haris.

“Serius,” lanjut Haris. “Pasien tetap datang. Operasi tetap jalan. Poli tetap buka. Klaim BPJS juga tetap berjalan. Jadi, buat apa kita jungkir balik begini?”

Gunawan akhirnya tertawa pendek.

“Nah... akhirnya ada juga yang ngomong.”

Haris melanjutkan.

“Coba lihat manajemen dan teman-teman kita. Begitu dengar surveior mau datang, semuanya panik. Dokumen dicari. Form yang tiga bulan tidak disentuh tiba-tiba diisi. Sosialisasi setiap hari. Grup WhatsApp penuh instruksi.”

Ia berhenti sejenak, kemudian mengangkat wajahnya.

“Begitu surveior pulang?”

Tangannya membuat gerakan menurun.

“Perlahan semuanya kembali seperti semula.”

“Makanya kita perlu disiplin!” potong Ninuk.

Haris menoleh kepadanya.

“Disiplin... atau ketakutan?”

“Beda tipis kalau orangnya memang susah diajak berubah,” jawab Ninuk.

“Jangan salahkan pelaksana terus!” sahut Uun.

Percakapan yang semula tenang mulai berubah. Suara mereka saling bersahutan.

“Unit sudah dikasih tahu!”

“SDM-nya kurang!”

“Form sudah dibagikan!”

“SIMRS-nya saja belum sepenuhnya mendukung!”

“Apalagi kepatuhan mengisi E-RMnya”

“SPO sudah ada!”

“Ya, ada! Tapi orang di lapangan bahkan tidak tahu isinya!”

“Sudah disosialisasikan!”

“Empat jam duduk di aula itu namanya sosialisasi, bukan perubahan perilaku!”

Suasana semakin riuh.

Gunawan akhirnya mengetukkan telapak tangannya ke meja.

“Sudah!”

Seketika ruangan terdiam.

Gunawan memandang ketiga kawannya bergantian.

“Intinya, jangan-jangan selama ini kita memang terlalu serius mengejar akreditasi, bukan serius membangun mutu. Kalau akhirnya statusnya tidak sesuai harapan, lalu semua kerja keras ini sebenarnya untuk apa?”

Tak ada yang segera menjawab.

Pertanyaan itu menggantung di tengah ruangan.

Dan untuk pertama kalinya siang itu, mereka mulai menyadari bahwa yang sedang mereka perdebatkan mungkin bukan lagi soal Paripurna atau tidak Paripurna.

Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Sebenarnya, untuk apa rumah sakit melakukan akreditasi?

Namanya Raka.

Ia yang paling senior di antara mereka. Sejak awal perdebatan, Raka lebih banyak memilih diam dan mendengarkan. Sesekali ia mencatat sesuatu di buku kecil di hadapannya. Ketika suara mulai mereda, ia menutup bukunya perlahan.

“Boleh saya bertanya?”

Keempatnya terdiam.

“Enam bulan terakhir, apa sebenarnya yang kita kejar?”

“Ya akreditasi,” jawab Gunawan cepat.

“Bukan.”

“Paripurna,” sahut Ninuk.

Raka menggeleng pelan.

“Justru itu masalah kita.”

Ia berdiri, mengambil spidol, lalu berjalan menuju papan tulis. Ditulisnya satu kata besar:

PARIPURNA

“Ini yang kita kejar?”

Tidak ada yang menjawab.

Di bawahnya, Raka menuliskan satu kata lagi:

PASIEN

Ia berbalik menghadap mereka.

“Sekarang saya tanya, yang mana sebenarnya tujuan kita?”

Uun tersenyum tipis.

“Jangan terlalu idealis, Dok. Realitasnya rumah sakit memang dinilai melalui akreditasi.”

“Benar,” jawab Raka. “Saya tidak pernah mengatakan akreditasi tidak penting.”

Ia kembali ke kursinya.

“Akreditasi itu penting. Sangat penting. Tetapi kita keliru ketika menjadikan akreditasi sebagai tujuan akhir, apalagi kalau seluruh energi kita hanya diarahkan untuk mendapatkan sebuah status.”

“Bedanya apa?” tanya Haris.

“Besar sekali.”

Raka mengambil salah satu formulir identifikasi pasien yang berserakan di atas meja.

“Misalnya ini. Kenapa pasien harus diidentifikasi dengan benar?”

“Karena standar mengharuskan,” jawab Haris.

“Nah.”

Raka tersenyum.

“Jawaban seperti itulah yang membuat kita capek.”

Uun mengernyit.

“Seharusnya?”

“Karena kalau kita salah mengidentifikasi pasien, obat bisa diberikan kepada orang yang salah. Darah bisa ditransfusikan kepada pasien yang salah. Tindakan bisa dilakukan kepada orang yang salah.”

Ia meletakkan formulir itu kembali ke atas meja.

“Jadi kita melakukan identifikasi pasien bukan karena besok surveior akan datang. Kita melakukannya karena pasien harus selamat.”

Ruangan mendadak hening.

“Standar bukan dibuat untuk menyenangkan surveior. Standar dibuat untuk membantu rumah sakit membangun sistem yang melindungi pasien.”

Tidak ada yang menyela.

Apa yang dikatakan Raka sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi mereka. Dalam berbagai materi yang mereka pelajari, mereka berkali-kali diingatkan bahwa akreditasi tidak boleh berhenti pada document-based. Sistem harus bergerak menuju process-based, kemudian patient-based, dan pada akhirnya outcome-based.

“Tapi kenyataannya,” Gunawan berkata lebih pelan, “yang ditanyakan tetap dokumen.”

Raka mengangguk.

“Betul. Karena dokumen adalah bukti. Kita tetap membutuhkan regulasi, laporan, data, dan bukti implementasi untuk menunjukkan bahwa sistem benar-benar berjalan.”

Ia berhenti sejenak.

“Tetapi bukti bukanlah tujuan. Dokumen membuktikan sistem berjalan; bukan sistem berjalan demi menghasilkan dokumen.”

Raka mengambil spidol lagi. Ia menulis:

DOKUMEN ? PROSES ? PASIEN ? HASIL

“Kalau SPO ada tetapi tidak dilaksanakan, gagal.”

“Kalau dilaksanakan?” tanya Haris.

“Kita ukur.”

“Kalau hasilnya jelek?”

“Kita perbaiki.”

“Kalau sudah baik?”

“Kita jaga agar tetap baik.”

Raka menambahkan satu kata di bawahnya:

BERKELANJUTAN

“Nah, itu akreditasi.”

Semua terdiam. Uun hanya tersenyum-senyum, sementara Ninuk yang sejak tadi terlihat tegang mulai lebih tenang.

“Jadi menurut Dokter, masalah kita selama ini karena terlalu mengejar kelulusan?” tanya Ninuk.

“Sebagian.”

“Sebagian lagi?”

Raka meletakkan spidolnya.

“Kita terlalu sering membangun sistem untuk sebuah moment, bukan membangun sistem menjadi sebuah culture.”

Raka menunjuk kalender yang tergantung di dinding.

“Enam bulan sebelum survei, kita mulai membentuk tim.”

Ia menunjuk tumpukan map di sudut meja.

“Tiga bulan sebelum survei, kita sibuk mengejar dokumen.”

Tangannya kemudian berpindah menunjuk laptop.

“Satu bulan sebelum survei, kita simulasi, sosialisasi, telusur, rapat hampir setiap hari.”

“Lalu survei datang,” sambung Gunawan.

“Semua bergerak,” kata Raka.

“Lalu Paripurna,” tambah Haris.

Raka mengangguk.

“Setelah itu?”

Tidak ada yang menjawab.

Gunawan akhirnya tertawa kecil.

“Tidur.”

Mereka pun ikut tertawa.

“Dan menjelang reakreditasi?” tanya Raka lagi.

“Panik lagi,” jawab Ninuk sambil tersenyum.

“Nah, itulah salah satu jebakan terbesar akreditasi.”

Raka kembali memandang keempat kawannya.

“Dan sebenarnya, di sinilah tugas kita di Komite Mutu. Bukan sekadar membuat rumah sakit lulus akreditasi, tetapi membangun budaya mutu dan keselamatan pasien yang hidup setiap hari.”

Ia mengambil spidol dan menuliskan dua istilah:

COMPLIANCE CULTURE vs QUALITY & SAFETY CULTURE

“Kalau orang bekerja karena surveior akan datang, itu compliance culture. Orang patuh karena sedang dinilai.”

Raka memberi garis di bawah tulisan kedua.

“Tetapi kalau orang tetap melakukan identifikasi dengan benar, tetap menjaga kebersihan tangan, tetap melaporkan insiden, tetap mengukur indikator, tetap melakukan perbaikan, meskipun tidak ada surveior yang datang, itulah quality and safety culture.”

Uun yang sejak tadi hanya tersenyum akhirnya mengangguk.

“Berarti ukuran keberhasilan kita bukan ketika rumah sakit terlihat hebat saat survei?”

Raka tersenyum.

“Bukan hanya itu.”

Ia mengetuk pelan tulisan di papan.

“Ukuran keberhasilan kita justru ketika cara kerja yang benar tetap dilakukan saat tidak ada seorang pun yang sedang menilai.”

Ruangan kembali hening.

Kali ini bukan karena mereka kehabisan bahan untuk berdebat.

Mereka mulai memahami bahwa selama ini siklusnya memang sering berulang: tim dibentuk, dokumen dikejar, simulasi dilakukan, survei datang, status diperoleh, aktivitas menurun, lalu menjelang reakreditasi semua kembali panik. Dan justru siklus itulah yang harus mereka putus.

“Tapi teman-teman kita memang sudah mulai pasrah,” kata Ninuk.

“Kenapa?”

“Ya... mungkin capai dan bosan.”

Raka menggeleng pelan.

“Jangan terlalu cepat menyimpulkan demikian. Kadang orang terlihat pasrah bukan karena tidak peduli, tetapi karena ada sesuatu dalam sistem yang membuat semangat mereka perlahan hilang.”

Ia mulai menghitung dengan jarinya.

“Mungkin mereka tidak memahami why-nya—mengapa semua ini harus dilakukan.”

“Purpose gap,” gumam Haris.

“Mungkin mereka merasa semua usaha itu tidak memberikan manfaat atau penghargaan apa pun.”

“Reward gap.”

“Mungkin mereka menganggap akreditasi hanyalah urusan Pokja atau Komite Mutu.”

“Ownership gap.”

“Mungkin memang belum cukup memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.”

“Capability gap.”

“Mungkin pimpinan banyak memberikan instruksi, tetapi belum cukup memberikan contoh.”

“Leadership gap.”

“Atau beban pekerjaan mereka memang sudah terlalu berat.”

“Workload gap.”

“Atau mereka terus bekerja tanpa pernah tahu apakah yang mereka lakukan sudah benar atau belum, karena hampir tidak pernah mendapatkan umpan balik.”

“Feedback gap.”

Raka mengangguk.

“Nah. Jadi sebelum kita menyalahkan manusianya, mari kita periksa dulu sistemnya. Bisa jadi yang terlihat sebagai kepasrahan sebenarnya adalah akumulasi dari berbagai celah yang tidak pernah kita selesaikan.”

Gunawan terdiam cukup lama.

“Kalau begitu, selama ini kita salah?”

“Tidak,” jawab Raka cepat. “Kita sedang belajar.”

“Tapi hasil kita tetap tidak Paripurna hanya karena laporan.”

“Dan itu mengecewakan. Saya juga kecewa.”

“Lalu?”

Raka menatap Gunawan.

“Besok pagi pasien tetap datang, bukan?”

Gunawan mengangguk.

“Besok ada operasi?”

“Ada.”

“ICU tetap merawat pasien kritis?”

“Iya.”

“IGD tetap menerima pasien?”

“Iya.”

Raka tersenyum. Ia berdiri, lalu menghapus tulisan PARIPURNA yang sejak tadi memenuhi papan. Hanya satu kata yang dibiarkannya tetap ada:

PASIEN

“Berarti pekerjaan kita belum selesai.”

Ia menunjuk tulisan itu.

“Status akreditasi boleh berubah. Sertifikat memiliki masa berlaku. Surveior datang, menilai, lalu pulang. Tetapi pasien datang setiap hari. Jadi tanggung jawab kita terhadap mutu dan keselamatan juga harus hidup setiap hari.”

Ninuk memandang tumpukan dokumen di atas meja.

“Lalu mulai besok kita bagaimana? Rapat lagi?”

“Tidak.”

“Sosialisasi besar?”

“Tidak.”

“Bikin tim baru?”

“Juga tidak.”

“Terus?”

Raka tersenyum.

“Besok kita mulai dari yang kecil.”

Ia kembali mengambil spidol.

“Mulailah dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten: lima menit briefing setiap hari, satu telusur setiap hari, satu review rekam medis pasien, satu observasi keselamatan, setiap satu masalah diikuti satu tindakan perbaikan, memberikan umpan balik setiap minggu, dan menjalankan PDSA setiap bulan.”

“Tidak perlu menunggu survei.”

Haris memandangi papan.

“Jadi target kita bukan lagi survey-ready?”

Raka menggeleng.

“Target kita tetap siap survei.”

Ia berhenti sejenak, kemudian menambahkan,

“Tetapi bukan siap survei hanya tiga bulan menjelang penilaian atau sekali dalam empat tahun.”

Spidolnya kembali bergerak di papan.

SURVEY-READY, EVERY DAY.

“Karena rumah sakit yang benar-benar siap setiap hari tidak perlu panik ketika surveior datang.”

Waktu terus bergeser, pertanda jam kerja hampir usai. Satu per satu mereka menutup laptop. Ketegangan yang sejak tadi memenuhi ruangan perlahan mencair menjadi senyum. Tidak ada keputusan besar yang dibuat siang itu, tetapi ada sebuah mimpi yang mulai tumbuh bersama: bagaimana membangun budaya mutu dan keselamatan pasien yang tidak bergantung pada datang dan perginya surveior; bagaimana menjadikan telusur, evaluasi, dan perbaikan sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari.

Mereka datang ke ruangan itu dengan pikiran tertuju pada satu kata besar: PARIPURNA. Namun mereka pulang membawa satu kata yang jauh lebih besar maknanya: PASIEN. Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar status apa yang tertulis pada sertifikat akreditasi, melainkan bagaimana setiap pasien yang datang dapat tetap terjaga keselamatannya, memperoleh pelayanan yang bermutu, dan pulang dengan pengalaman pelayanan yang semakin baik.

“Jangan hanya bersemangat ketika akreditasi mendekat. Jagalah semangat itu tetap menyala setelah surveior pulang—karena sertifikat memiliki masa berlaku, tetapi tanggung jawab kita kepada pasien tidak pernah berlalu.”

— by goens’GN

 

Komentar(2)

Sendy on 2026-10-01 12:40:32

Sesuai sekali dengan realita lapangan dok, tujuan utama yang sering terlupakan terimakasih

EKO VINALY on 2026-10-01 13:19:08

Super sekali,hal sering terjadi ,realita yang terjadi di lapangan dok,motivasi untuk berekelanjutan

Tinggalkan komentar